Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Umbu Landu Paranggi, Inisiator, Legenda dan Presiden Malioboro

 takaksehat.com_Ketika mendengar kata “Persada Studi Klub”, pastilah akan teringat satu nama legendaris, Umbu Landu Paranggi.  Persada Studi Klub atau yang sering disingkat PSK adalah sebuah komunitas penulis muda Yogya era 1960-an. Komunitas ini terdiri dari beberapa anak muda yang seakan-akan mengabdikan hidupnya hanya untuk membaca, diskusi dan menulis.

Umbu Landu Paranggi, Inisiator, Legenda dan Presiden Malioboro

1. Sejarah Lahirnya PSK

Pada tanggal 5 Maret 1968, Persada Studi Klub lahir atas inisiasi redaktur sastra mingguan Pelopor Yogya, Umbu Landu Paranggi.  Tujuan pembentukan komunitas ini juga sederhana, yakni mengasah kreativitas menulis. Dari sinilah lahir para penulis dan penyair hebat seperti Ragil Suwarna Pragolapati, Linus Suryadi, Iman Budhi Santosa hingga Emha Ainun Najib.

Mulanya, para anggota PSK berkumpul tiap pekan di kantor redaksi Pelopor Yogya. Seiring berjalannya kegiatan, kegiatan diskusi, menulis dan aktivitas kreatif lainnya bisa terjadi di mana saja. Tak jarang juga mereka berkumpul di rumah salah seorang anggota di antaranya namun jalanan Malioboro memang menjadi tempat favorit.

Diskusi mingguan tersebut terus merebak hingga tak jarang PSK mengadakan kegiatan atau acara seperti lomba kesastraan, perkemahan sastra, sarasehan sampai pentas seni di luar Yogyakarta. Umbu lantas mengintegrasikan beragam kegiatan itu dengan Pelopor Yogya.

Media tersebut menjadi wadah komunikasi dan media muatan karya para anggota PSK. Bahkan menyediakan rubrik khusus dengan nama Pos Persada. Rubrik tersebutlah yang menjadi “ratifikasi” seseorang telah resmi menjadi anggota Persada Studi Klub.

2. Umbu, Sang Guru

Peran sentral Umbu dalam pengembaraan PSK memang tidak dapat terpungkiri. Selain menjadi kreator, Umbu jugalah yang menjadi mentor bagi anak-anak PSK yang lebih muda lainnya. Oleh anggota PSK, Umbu bahkan mendapat julukan Presiden Malioboro.

Umbu menemani proses kreatif rekan-rekan penulis muda PSK dari mulai pertemuan diskusi mingguan sampai pada koreksi karya tulis. Umbu sendirilah yang membaca dan melakukan kurasi terhadap karya-karya anggota Persada. 

Jika dinilai layak, maka dapat nampang di rubrik Pos Persada bahkan rubrik Sabana. Meski melakukan kurasi yang ketat, Umbu tidak lantas mengembalikan begitu saja karya yang tidak lolos kurasi namun juga memberi catatan evaluasi bagi penulis.

Baca Juga: Kata bijak dari para tokoh

Salah seorang generasi awal PSK, Iman Budhi Santosa menggambarkan kekagumannya kepada Umbu yang mengenalkan sastra melalui metode yang anti-mainstream. Ia mengajarkan sastra secara empiris sebagai entitas yang menyatu dengan kehidupan bukan sebagai kurikulum dan teori mainstream seperti di ruang-ruang kelas. Umbu lihai menciptakan ruang diskusi dalam setiap pertemuan menjadi momentum puitik.

Hal senada juga diutarakan oleh penulis lain, yakni Teguh Ranusastra Asmara. Ia pernah menyusuri Malioboro bersama Umbu pada suatu malam dan selama itu pula ia mendapat pelajaran puisi dari Sang Mentor. Beberapa kali Umbu meminta Teguh mengamati sekitar dan memerintahkannya untuk menyusun kata dari interpretasi yang terserap.

3. Pasca Kepergian Umbu

Tujuh tahun setelah Persada mulai berkembang, secara tiba-tiba sang Founding Father, Umbu hijrah dari tanah Jogja. Sejak tahun 1975, ia tinggal di Bali sampai saat ini. Kepindahan Sang Guru ini membuat gairah dan eksistensi PSK perlahan redup.

Umbu Landu Paranggi benar-benar tidak tergantikan. Walaupun Ragil Suwarno Pragolapati alias Mas Warno masih coba meneruskan “proyek” Umbu. Mas Warno membuka sanggar di kediamannya di Bantul. Ia banyak mengadakan pertemuan dan diskusi. Pujangga kelahiran Pati, 22 Januari 1948 tersebut merupakan dokumentator karya-karya anggota PSK yang paling tekun.

Sekian cerita singkat yang tentunya memberikan inspirasi kepada kita, untuk terus berkarya dan memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat untuk kehidupan yang lebih baik bagi bangsa kita.

Posting Komentar untuk " Umbu Landu Paranggi, Inisiator, Legenda dan Presiden Malioboro"