Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dimensi Hakikat Manusia Materi Pengantar Pendidikan

takaksehat.com_Objek dari Pendidikan adalah manusia, Pendidikan bertujuan menumbuhkembangkan manusia. Dari sejak kecil hingga dewasa, sehingga diharapkan manusia tersebut dapat menjadi manusia berbudi luhur dan bermatabat, bahkan bermakna bagi sesama.

Pada artikel sebelumnya saya telah menuliskan sifat hakikat manusia, maka pada artikel ini saya akan menuliskan sifat hakikat manuisa berdasarkan dimensi-dimensi. Sebelum masuk pada 4 poin yang akan saya jabarkan.

Saya mengingatkan kembali, mengapa pengantar Pendidikan mempelajari filsafat antropologi atau manusia. Karena setiap manusia sebenarnya unik, manusia jika tidak dikenal secara umum oleh pendidik, akan sulit untuk bisa mengarahkan, mendidik, dan menjalani proses belajar mengajar.

Berikut ini ada 4 poin tentang dimensi-dimensi hakikat manusia yang harus kita ketahui sebagai seorang pendidik.

 Dimensi Hakikat Manusia Pengantar Pendidikan

1. Dimensi Individual

Individu merupakan satu kesatuan, seseorang tidak bisa dipisahkan apalagi dibagi-bagi. Individu adalah pribadi, pribadi yang tidak akan pernah memiliki kesamaan satu dengan yang lainnya. Kita sangatlah mengerti bahwa setiap anak yang dilahirkan, maka ia hadir ke dalam dunia ini sebagai pribadi baru.

Pribadi baru ini tidak akan pernah ada kesamaan dengan individu lainnya. Tidak akan pernah ada seseorang yang akan sama seacara identik di muka bumi ini, semuanya unik, semuanya berbeda, semuanya indah berdasarkan individu itu sendiri.

Jika kita ada menemukan kesamaan dalam diri seseorang baik dalam bentuk muka, dalam bentuk kebribadian. Tetapi hal itu sudah bisa kita pastikan, bahwa mereka tidak sama baik dalam bentuk wajah. Akan selalu ada detail-detail kecil yang akan membedakan. Baik dalam bentuk mata, hidung, dan lain-lain.

Begitu juga dengan sifat, setiap orang memiliki perasaan, pemikiran, dan tujuan masing-masing dalam kehidupan mereka. Jadi setiap orang, manusia memiliki ciri khasnya masing-masing, hal ini sudah secara alami terjadi dalam diri manusia.

Lalu kita harus tahu peran Pendidikan dalam hal mendidik atau membidik setiap generasi penerus manusia. Setelah kita tahu bahwa semua manusia itu unik, memiliki ciri khasnya, dan selalu berbeda satu sama lain.

Menurut M.J. Langeveld, “setiap anak memiliki kemauan untuk melakukan segala sesuatu secara mandiri, meskipun mereka lemah dan tidak berdaya. Maka disinilah peran dari pendidikan, ketika seorang anak lemah dan tidak berdaya, yaitu bagaimana seorang pendidik menjadi tempat bagi mereka untuk membimbing mereka dan tempat mereka berlindung.”

Sifat seorang anak yang memiliki kemauan keras untuk mandiri, untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat merupakan potensi seorang individual. Jika potensi ini tidak di tumbuh kembangkan melalui Pendidikan akan sangat menyedihkan. Karena tidak menjadi kenyataan.

Tanpa pembinaan, tanpa didikan, tanpa kehidupan yang dilatih, ciri kepribadian yang unik dan menarik ini akan hilang. Maka pola pendidikan yang bersifat demokratis sangatlah cocok bagi setiap anak yang merupakan individual. Yaitu pendidik memiliki tugas untuk mendorong dan menunjukan jalan, agar anak didik mampu menemukan dirinya sebagai individu sehingga ia mampu menjadi individu yang seutuhnya.

2. Dimensi Sosialisasi

Manusia adalah individu yang tidak dapat hidup sendiri, manusia adalah pribadi yang unik dan harus bergaul. Kita tahu bahwa manusia sebagai mahluk sosial merupakan kebutuhan mutlak setiap orang. Akan selalu ada dorongan kuat untuk bergaul dengan sesama manusia.

Pendapat M.J. Langeveld, “Setiap bayi yang baru saja dilahirkan akan selalu dikarunai potensi bersosialisasi.” Setiap orang selalu ingin berkomonikasi, maka dari kehidupan yang saling berkomunikasi inilah akan hadir kehidupan yang saling menguntungkan.

Bahkan salah satu kunci dari keberhasilan adalah keahlian dalam berkomunikasi. Sangatlah diperlukan keahlian yang satu ini, keahlian yang mampu menjadikan kehidupan sosial menjadi menyenangkan dan damai.

Melalui kehidupan sebagai menusia yang sosial, maka ketika bergaul. Seorang anak akan berkesempatan untuk belajar dari temannya. Dalam pergaulan juga seseorang dapat menemukan tujuan hidup, inspirasi, motivasi, dan kehidupan yang jauh lebih bermakna.

Maka tugas dan tanggung jawab dari Pendidikan adalah menjadikan peserta didik anak-anak yang akan tumbuh dewasa yang memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik. Menjadi individu yang sosial secara utuh mampu merais kesuksesan karena dapat bersosialisasi dengan baik.

3. Dimensi Kesusilaan

Kesusiaaln memiliki arti kepantasan, berasal dari kata su dan sila. Sebagai manusia yang adalah mahluk sosial tentunya kita hidup bermasyarakat, kepantasan bersikap dan sopan santun sangatlah ditekankan dalam kehidupan masyarakat kepada individu. Inilah kesusulaan.

Namun akan sangat tidak pantas atau tidak baik jika ada seseorang bersikap pantas dan sopan namun ada maksud terselubung dalam dirinya. Maka dari itu Susila memiliki pengertian menjadi lebih baik lagi.

Kesusilaan sendiri sangatlah berhubungan erat dengan, etika dan etiket. Etika berkaitan dengan kejahatan yang sangat merugikan orang lain masuk dalam ranah kriminal, maka hal ini dikatakan tidak beretika dan bermoral. 

Baca Juga : Inilah cara memilih kampus keren untuk kuliah

Sedangkan etiket merupakan sikap yang tidak sopan, hanya akan menjadikan orang lain tidak merasa nyaman atau suka kepada ornag yang tidak beretiket. 

Kesusilaan sendiri berhubungan erat dengan nilai-nilai. Maka dari pengetahuan ini, kita dapat mengetahui seperti apa sifat manusia pada umunya.

Ketika seseorang hanya memiliki pengetahuan akan nilai belum tentu orang tersebut dapat melaksanakan nilai-nilai yang telah ditentukan. Hal ini wajar karena melakukan merupakan sikap sedangkan pengetahuan hanya penalaran.

Sehingga Pendidikan memiliki perang untuk melatih manusia yang  masih kecil agar dapat mematuhi nilai-nilai yang ada dalam kehidupan. Mampu menjadi orang-orang yang bukan hanya sukses dan pandai berkomunikasi tapi juga mampu menjadi individu yang memiliki moral dan etiket yang baik. Sehingga kehidupan mereka berguna bagi sesama.

Bukan hanya membentuk pengetahuan tetapi juga melatih sikap dari peserta didik, sehingga terlatih menjadi individu yang bukan hanya mengetahui nilai-nilai yang ada. Melainkan mampu menjadikan nilai-nilai yang ada menjadi gaya hidup, inilah sikap yang harus dimiliki peserta didik, sehingga tujuan Pendidikan terwujud.

4. Dimensi keberagamaan

Tidak ada satu wilayahpun di dunia ini dalam kumpulan masyarakat, manusia tidak memiliki kepercayaan, tidak memiliki kehidupan religius. Kehidupan beragama yang mempercayai kekuatan yang luar biasa hadir dari luar kehidupan manusia.

Hal ini terjadi sejak zaman dahulu kala, dimana nenek moyang kita menyembah di tempat-tempat tertentu yang dipercaya memiliki kekuatan gaib yang luar biasa. Bahkan tidak jarang dalam penyembahan itu, ada orang-orang tertentu memiliki kekuatan gaib yang diberikan dari yang mereka sembah.

Lalu adanya agama masuk, sebagai indentitas nenek moyang kita mulai menganutnya. Kehidupan beragama merupakan kebutuhan semua umat manusia, manusia sadar bahwa dirinyan penuh kelemahan.

Maka ia membutuhkan kekuatan yang lebih besar dibandingkan dirinya, maka manusia memiliki agama sebagai penopang kehidupannya secara pribadi. Pendidikan agama sangatlah penting. Pendidikan agama haruslah dilaksanakan dilingkungan keluarga.

Karena Pendidikan yang satu ini merupakan respon dari hati yang mau menganut agama yang ia akan percayai sebagai pedoman hidupnya. Mengapa harus orang tua, karena orang tua memiliki ikatan dari hati kehati, ikatan batin yang sangatlah kuat bahkan sedarah.

Pendidikan agama haruslah secara serius ditanamkan sejak dini kepada anak-anak atau peserta didik, terutama oleh prang tua dan oleh Pendidikan formal disekolahan. Karena Pendidikan Agama adalah dasar dari kehidupan individu yang akan memiliki kehidupan sosial yang baik, sopan santan beretiket, bahkan ber moral.

Jika dasar pedidikan agama benar, dan seorang peserta didik memiliki pedoman yang kehidupan yang baik tentang kehidupannya agar ia dapat menjadi mahluk sosial yang utuh, individu sopan dan tidak merugikan pihak lain. Maka Pendidikan agama melatih anak tesebut.

Baca Juga : Hakikat Manusia Dan Hubungannya Dengan Pendidikan

Melatih ia tentang bagaimana hidup taat pada otoritas Pencipta dunia. Sehingga dari kepatuhannya inilah ia mampu menjadi seseorang yang patuh pada nilai-nilai kehidupan dalam bermasyarakat. Tercapainya tujuan dari Pendidikan.

Penutup dari penulis

Kita dapat belajar bahwa kita manusia adalah individu sosial yang suka bergaul dengan orang lain, tentunya sesuai dengan keahlian kita, dimana kita dapat belajar ketika kita bergaul dalam pergaulan sangat dibutuhkan yang namanya komunikasi.

Ketika berkomunikasi, dibidang inilah kita perlu menjadi mansia yang kesusilaan yaitu manusia yang beretiket dan beretika. dalam praktiknya kita memerlukan agama, karena dalam pengajaran agamalah kita dapat menemukan aturan-aturan atau bisa juga dasar-dasar kehidupan kita untuk menjadi individu yang sosial beretika dan beretiket baik.

Sekian penjelasan saya tentang dimensi hakikat manusia materi pengantar pendidikan semoga bermanfaat.